Kisah Remaja Laki-Laki Buta, Membangun Bisnis Senilai Rp 215 M

Bagikan ke:

 

Kisah Remaja Laki-Laki Buta, Membangun Bisnis Senilai Rp 215 M

Meski terlahir buta, Srikanth Bolla tak membiarkankekurangan tersebut menjadi halangan bagi dirinya menggapai kesuksesan. Pria berusia 23 tahun ini berhasil mendapatkan beasiswa dari Institut Teknologi Massachusett (MIT) dan menjadi CEO bagi startup senilai US$ 16 juta.

Bolla adalah seorang pemuda sederhana yang lahir di Andhra Pradesh. Lahir di keluarga petani yang miskin, ia bekerja sambil bersekolah.

Kerja kerasnya membuat ia lulus sekolah menengah dengan nilai fantastis, bahkan masuk ke MIT. Pada tahun 2012, ia memulai perusahaannya sendiri: BollAnt Industries. Sebuah perusahaan di bidang pengemasan.

Karena terlahir buta, ia mendapat banyak sekali diskriminasi saat bersekolah. Saat ia mendaftar, Dewan Pendidikan setempat bahkan menolak dan mengatakan hanya bidang senilah yang cocok bagi tunanetra seperti dia.

Namun, karena catatan akademis yang baik serta prestasi di berbagai bidang, ia berhasil mengesankan empat perguruan tinggi ternama: MIT, Carnegie Mellon, Stanford, dan Berkeley. Ia memilih MIT dan menjadi mahasiswa internasional tunanetra pertama di kampus tersebut, dilansir dari Business Insider.

Setelah lulus dari MIT, ia merasa perlu untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang yang mengalami kondisi sama dengannya di India. Ia pun memilih pulang ke tanah air.

Pada tahun 2012, ia memulai BollAnt Industries Pvt. Ltd. Perusahaannya memberi banyak peluang bagi penyandang tunanetra untuk bekerja di sana dengan upah sama seperti orang normal.

Perusahaannya membuat peralatan biodegredable dan kemasan ramah lingkungan dari sekam dan limbah pertanian. Sekarang, ia telah memiliki lima unit manufaktur dan penjualan perusahaannya telah melewati US$ 16 juta atau sekitar Rp 215 miliar.

“Saya belajar bahwa bahkan jika seseorang tidak berpendidikan, ia bisa saja memiliki proyeksi masa depan yang bagus jika didukung dengan benar,” kata Bolla.

“Saya juga belajar untuk memperlakukan semua orang dengan rasa hormat yang sama, terlepas dari tingkat pendidikan atau status sosial ekonomi mereka,” tutup dia.

Liputan6.com

miliader

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.