SEORANG IBU YANG TIDAK BANGGA ATAS KEKAYAAN ANAKNYA

Bagikan ke:

*SEORANG IBU YANG TIDAK BANGGA ATAS KEKAYAAN ANAKNYA*
_”Nak pergilah menuntut ilmu untuk jihad di jalan Allah SWT, kelak kita bertemu di akhirat saja ..!!”_

Perintah ibunda Imam Syafi’i kepada Imam puteranya, Syafi’I, sebelum rihlah (perjalanan menuntut ilmu).

Kemudian, Imam Syafi’i berangkat dari Mekkah ke Madinah belajar kepada Imam Malik, kemudian ke Iraq.

Di Iraq Imam Syafi’i bukan hanya 1 atau 2 tahun, beliau tidak berani pulang ke rumah, karena ketika beliau ingin pulang beliau teringat pesan ibunda beliau tersebut _“kelak kita bertemu di akhirat saja ..”_, sehingga sebelum ada izin dari ibunya beliau tidak berani pulang ke rumah.

Di Iraq beliau menjadi orang besar dan alim.

Suatu ketika diselenggarakan halaqoh besar di Masjidil Haram.
Ada seorang ulama besar dari Iraq yang dalam perkataannya sering menyebut _”Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata begini .. begini ..”._

Kemudian ibunya Imam Syafi’i bertanya:
_”Ya Syaikh, siapakah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i itu ?”_

Kemudian Syaikh tersebut menjawab dengan bangganya:
_”Dia adalah guruku, seorang yang ‘alim, cerdas, dan sholeh yang berada di Iraq. Beliau berasal dari Mekkah sini.”_

Kemudian ibu Imam Syafi’i berkata:
_”Ketahuilah Syaikh, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i itu adalah anakku.”_

Syaikh itupun kaget dan tercengang
_”Subhanallah ..!!, wahai ibu, benarkah hal itu ?”_

_”Ya, benar. Dia adalah anakku …”_, jawab ibunda Imam Syafi’i .

Rombongan dari Iraq itupun seketika menunduk, sebagai tanda hormat kepada ibunda Imam Syafi’i.

Kemudian Syaikh tersebut berkata:
_”Wahai ibu, sepulang dari acara ini kita akan kembali ke Iraq. Apa pesanmu kepada puteramu, Imam Syafi’i ?”_

Kemudian ibunda Imam Syafi’i berpesan:
_”Sampaikan kepadanya, jikalau dia sekarang ingin pulang, aku mengizininya untuk pulang.”_

Kemudian, sepulang dari halaqah, Syaikh beserta rombongan Iraq itupun menyampaikan pesan tersebut kepada Imam Syafi’i bahwasanya ibundanya telah mengizinkan beliau untuk pulang ke rumah.

Mendengar hal tersebut, mata beliaupun terharu dan merasa bahagia.

Ini artinya Imam Syafi’i masih berkesempatan bertemu dengan sang ibunda di dunia ini, walaupun sebelumnya ibundanya berkata _“kelak kita bertemu di akhirat saja ..”._

Imam Syafi’i tidak mengulur-ngulur waktu, beliau berkemas-kemas dan sesegera mungkin bertemu ibundanya di Mekkah.

Sebelumnya, Imam Syafi’i berpamitan kepada warga Iraq setempat. Karena kealiman dan kemasyhuran beliau di Iraq, maka masyarakat yang mencintai dan mengagumi beliau merasa bersimpati kepada Imam Syafi’i dengan memberi apa yang mereka punya dari kekayaan mereka.
Ada yang memberi unta, dinar, dll sekedar untuk bekal belaka.
Walhasil, Imam Syafi’i pun pulang dengan membawa puluhan unta dan dikawal oleh beberapa santri beliau.

Sesampai di perbatasan kota Mekkah, Imam Syafi’i mengutus seorang santrinya agar mengabarkan kepada Ibundanya bahwa saat ini beliau sudah di perbatasan kota Mekkah. _Hal seperti ini termasuk sunnah, yakni mengabari pihak rumah ketika seseorang mau pulang supaya pihak rumah mempersiapkan sesuatu, bukan malah membuat malah kejutan._

Kemudian, Santri Imam Syafi’i-pun mengetuk pintu rumah.

_”Siapa itu ?”_ tanya ibunda Imam Syafi’i.

_”Saya adalah santri Imam Syafi’i yang diutus beliau agar mengabarkan kepada anda, bahwa Imam Syafi’i sekarang sudah berada di perbatasan kota Mekkah”,_ jawab santri Imam Syafi’i.

Lalu ibunda Imam Syafi’i berkata:
_”Muhammad (panggilan ibudanya kepada Imam Syafi’i) membawa apa ?”_

Dengan bangga santri Imam Syafi’i menjawab:
_”Beliau pulang dengan membawa puluhan unta dan harta lainya.”_

Mendengar penuturan santri Imam Syafi’i yang polos itu, ibunda Imam Syafi’i menutup pintunya sambil berkata:
_”Aku menyuruh Muhammad ke Iraq bukan untuk mencari dunia. Beritahu kepadanya bahwa dia tidak boleh pulang ke rumah ..!!”_

Menuruti perintah ibunda Imam Syafi’i, santri Imam Syafi’ipun gemetar dan melaporkan kepada Imam Syafi’i.
_”Wahai Imam, ibunda anda marah dan menyuruh anda untuk tidak pulang ke rumah.”_

Lalu Imam Syafi’i betanya:
_”Mengapa bisa demikian ?”_

Santrinya pun menjelaskan:
_”Wahai Imam, sesungguhnya ibunda anda bertanya ? Muhammad membawa apa? Kemudian aku berkata bahwa anda membawa puluhan unta dan kekayaan lainnya ..”_

_”Sungguh suatu kesalahan besar dirimu, jika engkau menganggap ibundaku akan bahagia dengan harta yang kubawa ini. Baiklah, sekarang kumpulkan orang Mekkah dan bagikan semua unta dan kekayaan lainya pada penduduk Mekkah, dan sisakan kitab-ku, setelah itu kabarkan lagi kepada ibuku …”,_ ujar Imam Syafi’i kepada santrinya.

Santri Imam Syafi’i itupun menurut apa yang diperintahkan oleh gurunya, lantas ia kembali ke rumah Imam Syafi’i untuk menemui ibunda beliau.

Sesampai di depan rumah ia mengetuk pintu dan terdengarlah dari dalam rumah
_”Siapa?”_

_”Saya adalah santri Imam Syafi’i yang kemarin dan ingin mengabarkan kepada anda, bahwa Imam Syafi’i telah membagikan semua unta dan harta yang lainnya. Yang beliau bawa hanya kitab dan ilmu”,_ jawab santri Imam Syafi’i.

_”Alhamdulillah, baiklah sekarang kabarkan kepadanya bahwa dia boleh pulang ke rumah dan dia aku tunggu ..”._

Mendegar kabar itu Imam Syafi’i bahagia dan terharu dengan kabar tersebut.
Setibanya di rumah Imam Syafi’i mencium ibundanya yang telah lama tidak bertemu.
Semoga menjadikan inspirasi bagi kita semua..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.